Artikel, Cinta dalam Diam

CINTA DALAM DIAM YANG BERAKHIR DI DUA NEGARA

 

April 2004 perjalanan ku di mulai di sebuah negara Singa, setelah tiba di changi airport terminal 2, pandangan ku mulai mencari dan jariku mulai memicit nomor di hp ku menunggu jemputan dan ternyata aku sudah di tunggu oleh keluargaku yang ada disana walaupun kami tidak pernah bertemu sebelumnya, hanya melalui telpon. Yang aku tauh dia bernama bang Amir suaminya kak Kai, kata ibu ku yang akan menjemput.           

Dalam perjalanan di mobil aku melirik kekanan dan kekiri melihat keindahan negara singapura yang padat dengan gedung gedung pencakar langitnya. Tak lama kemudian aku pun sampai di belokan jalan besar yang ku lihat sebuah plang nama jalan  “ Langsat Road”  dan mobil pun berhenti didepan pagar rumah Family ku. Aku pun turun dan masuk kedalam rumah bertemu, bersalaman dan berpelukan karena tidak pernah bertemu selama ini.

“ how are you linda !”  sapaan seorang kakak kepadaku saat itu dan memelukku sambil menetaskan air mata Bahagia, “ I Badron, you can call me kak yon “, dan aku pun mengatakan “ I fine, thanks kak yon “ aku pun duduk dan di suguhkan air dingin yang melepaskan dahaga ku selama dalam perjalanan. “ linda  you bring bag in the room upstairs “,” yes kak yon” aku pun membawah tas ku keatas  menuju sebuah kamar yang telah disiapkan untukku.

Sebuah ketukkan berbunyi di pintu kamar ku, akupun membuka pintu dan kulihat sosok tubuh kak yon yang ideal masuk ke kamar ku “ linda after you rest, you can down stairs for lunch with me”, “ oke kak yon, I want bath fast, after this I come down “.

Kulihat di meja makan ada sosok tubuh besar dengan  rambut telah memutih  semua, ku dekati dan kusalami sambal mencium tanganya, dan dia menyapa “ linda apa kabar keluarga dipontianak”, dan aku mengatakan “ semua sehat, dan titip salam dari keluarga di Pontianak untuk seluruh keluarga di sini “, dan sosok tua itu pun menjawab “ waalaikum salam, linda panggil saya bak ya, bak itu bapak panggilan di kelurga ini “, “ ya bak, terima kasih “, jawabku. Dalam keluarga ini menggunakan dua Bahasa dalam percakapan sehari hari yaitu inggris dan melayu.

Seiring dengan perjalanan waktu ku berada disana aku melupakan sosok tubuh seseorang laki laki yang sering kulihat diruang kamar sebelahku setiap hari minggu pagi sampai ke sore minggu, hatiku bertanya tanya siapa die !.  waktu magrib hampir tiba, kulihat Bak bersiap siap untuk kemasjid dengan mobilnya karena masjid agak jauh dari rumah family yaitu di daerah Eunos, sedangkan kami berada di daerah langsat road.

“ linda linda”, Bak memangilku, aku pun menoleh kegarasi mobil “ ya Bak”, “ nanti kejutkan bang Raihan udah mau magrib, sebelum die balik kerumah flatnnye di Tampines “, “ ya Bak, Bak bang Raihan tu siape”, “ bang Reihan tu anak Bak yang paling bungsu, di tinggal dirumah sendiri di tampines jarang balik kesini kecuali hari minggu kalua die mau balik”, sambil tersenyum Bak menjawab pertanyaanku. “ udahlah Bak nak pergi sholat dulu”. “ya Bak”,dan Bak pun mengucapkan salam “Assalammualaikum”, “ waalaikum salam”, jawabku.

Akupun pergi ke lantai atas menuju kamar yang berada di sebelah kamarku, dan kumulaikan lah tangganku menggedor pintu sambil mengucapkan salam dan memanggil namanya, “ assalammualaikum, bang Raihan bangun udah mau magrib, Bak sudah ke masjid”, tiba tiba sosok tubuh yang ideal bagi laki laki dan idaman para wanita itu pun keluar “ada ape”, katanya “ tadi Bak pesan suruh kejutkan bang Raihan untuk sholat magrib sebelum balik ke Tampines”, jawabku dengan pelan, aku merasa takut karena  ku lihat dari, wajah sering emosional tinggi, “ ah masih ngantuk “, jawabnya sambil melihat diriku dan mengatakan “ ini linda kah keluarga Nani Ton dari Pontianak”, ya”, jawabku, Nani adalah panggilan Nenek untuk keluarga besar Al Bahrun. Bang Raihan pun tidak jadi tidur lagi, ia pun langsung ke toilet dan mengambil air wudhu, akupun bergegas mengambil air wudhu di kran air lantai bawah karena toilet diatas ada bang Raihan, akunpun kembali ke kamarku untuk melaksanakan sholat magrib dengan suasanan yang sepi,

Seiring perjananan waktu ku yang sudah bertahun tahun di negeri orang,  ku rasakan hatiku  mulai menyukainya bang Raihan secara diam diam tanpa ada yang tauh, aku merasa bahagia bila ia balik kerumah Langsat Road, sifat ku ,gaya ku, mimik wajahku sangat smart apabila ada bang Raihan kembali kerumah, aku selalu sibuk melayani dan bertanya mau makan atau minum apa, padahal dirumahnya ada maid dari daerah Tasikmalaya, tapi aku kepingin saja untuk melayaninya karena senang dan bahagia dan kurasakan bang Raihan pun mulai menyukai ku karena kulihat dari wajahnya yang selalu tersenyum padaku.

Kring….kring…kring …bunyi telpon bibi yati pun menggakat telpon, tak lama kemudian terdengar suara bibi yati memangilku, “ linda ada telpon dari Pontianak”, akupun terkejut dan berlari keruang tengah mengambil telpon, saat itu juga aku mendengar khabar ayahku meninggal, akupun terdiam dan tak terasa air mataku berlinang menetas membasahi pipiku, seketika itu juga Bak datang dengan melaju membawah mobilnya ke garasi, karena Bak sudah tauh duluan dari keluarga yang ada di Pontianak, teryata Bak sudah memesan tiket pesawat ku untuk pulang ke Pontianak dengan mendadak, akupun di suruh siap siap untuk pulang.

Perasaan cinta ku yang diam diam belum sempat ku ucapkan, hatiku telah rapuh dengan berita duka, aku pun berangkat tanpa pamit dengan keluarga apalagi dengan bang Raihan, cinta dalam diam ku berakhir di dua negara tanpa satu ucapan perpisahan dan aku harus menerima takdirku dengan ikhlas.

Cinta dalam diam memang tidak seharusnya memiliki, tapi sebagai kenangan yang terindah

  

Komentar

Posting Komentar