Artikel, Cinta dalam Diam
CINTA DALAM DIAM YANG BERAKHIR DI DUA NEGARA
Dalam perjalanan di mobil aku melirik
kekanan dan kekiri melihat keindahan negara singapura yang padat dengan gedung
gedung pencakar langitnya. Tak lama kemudian aku pun sampai di belokan jalan
besar yang ku lihat sebuah plang nama jalan “ Langsat Road” dan mobil pun berhenti didepan pagar rumah
Family ku. Aku pun turun dan masuk kedalam rumah bertemu, bersalaman dan
berpelukan karena tidak pernah bertemu selama ini.
“ how are you linda !” sapaan seorang kakak kepadaku saat itu dan
memelukku sambil menetaskan air mata Bahagia, “ I Badron, you can call me kak
yon “, dan aku pun mengatakan “ I fine, thanks kak yon “ aku pun duduk dan di
suguhkan air dingin yang melepaskan dahaga ku selama dalam perjalanan. “
linda you bring bag in the room upstairs
“,” yes kak yon” aku pun membawah tas ku keatas
menuju sebuah kamar yang telah disiapkan untukku.
Sebuah ketukkan berbunyi di pintu
kamar ku, akupun membuka pintu dan kulihat sosok tubuh kak yon yang ideal masuk
ke kamar ku “ linda after you rest, you can down stairs for lunch with me”, “
oke kak yon, I want bath fast, after this I come down “.
Kulihat di meja makan ada sosok tubuh
besar dengan rambut telah memutih semua, ku dekati dan kusalami sambal mencium
tanganya, dan dia menyapa “ linda apa kabar keluarga dipontianak”, dan aku
mengatakan “ semua sehat, dan titip salam dari keluarga di Pontianak untuk
seluruh keluarga di sini “, dan sosok tua itu pun menjawab “ waalaikum salam,
linda panggil saya bak ya, bak itu bapak panggilan di kelurga ini “, “ ya bak,
terima kasih “, jawabku. Dalam keluarga ini menggunakan dua Bahasa dalam
percakapan sehari hari yaitu inggris dan melayu.
Seiring dengan perjalanan waktu ku
berada disana aku melupakan sosok tubuh seseorang laki laki yang sering kulihat
diruang kamar sebelahku setiap hari minggu pagi sampai ke sore minggu, hatiku
bertanya tanya siapa die !. waktu magrib
hampir tiba, kulihat Bak bersiap siap untuk kemasjid dengan mobilnya karena
masjid agak jauh dari rumah family yaitu di daerah Eunos, sedangkan kami berada
di daerah langsat road.
“ linda linda”, Bak memangilku, aku
pun menoleh kegarasi mobil “ ya Bak”, “ nanti kejutkan bang Raihan udah mau
magrib, sebelum die balik kerumah flatnnye di Tampines “, “ ya Bak, Bak bang
Raihan tu siape”, “ bang Reihan tu anak Bak yang paling bungsu, di tinggal
dirumah sendiri di tampines jarang balik kesini kecuali hari minggu kalua die
mau balik”, sambil tersenyum Bak menjawab pertanyaanku. “ udahlah Bak nak pergi
sholat dulu”. “ya Bak”,dan Bak pun mengucapkan salam “Assalammualaikum”, “
waalaikum salam”, jawabku.
Akupun pergi ke lantai atas menuju
kamar yang berada di sebelah kamarku, dan kumulaikan lah tangganku menggedor
pintu sambil mengucapkan salam dan memanggil namanya, “ assalammualaikum, bang
Raihan bangun udah mau magrib, Bak sudah ke masjid”, tiba tiba sosok tubuh yang
ideal bagi laki laki dan idaman para wanita itu pun keluar “ada ape”, katanya “
tadi Bak pesan suruh kejutkan bang Raihan untuk sholat magrib sebelum balik ke
Tampines”, jawabku dengan pelan, aku merasa takut karena ku lihat dari, wajah sering emosional tinggi,
“ ah masih ngantuk “, jawabnya sambil melihat diriku dan mengatakan “ ini linda
kah keluarga Nani Ton dari Pontianak”, ya”, jawabku, Nani adalah panggilan Nenek
untuk keluarga besar Al Bahrun. Bang Raihan pun tidak jadi tidur lagi, ia pun
langsung ke toilet dan mengambil air wudhu, akupun bergegas mengambil air wudhu
di kran air lantai bawah karena toilet diatas ada bang Raihan, akunpun kembali
ke kamarku untuk melaksanakan sholat magrib dengan suasanan yang sepi,
Seiring perjananan waktu ku yang
sudah bertahun tahun di negeri orang, ku
rasakan hatiku mulai menyukainya bang
Raihan secara diam diam tanpa ada yang tauh, aku merasa bahagia bila ia balik
kerumah Langsat Road, sifat ku ,gaya ku, mimik wajahku sangat smart apabila ada
bang Raihan kembali kerumah, aku selalu sibuk melayani dan bertanya mau makan
atau minum apa, padahal dirumahnya ada maid dari daerah Tasikmalaya, tapi aku
kepingin saja untuk melayaninya karena senang dan bahagia dan kurasakan bang
Raihan pun mulai menyukai ku karena kulihat dari wajahnya yang selalu tersenyum
padaku.
Kring….kring…kring …bunyi telpon bibi
yati pun menggakat telpon, tak lama kemudian terdengar suara bibi yati
memangilku, “ linda ada telpon dari Pontianak”, akupun terkejut dan berlari
keruang tengah mengambil telpon, saat itu juga aku mendengar khabar ayahku
meninggal, akupun terdiam dan tak terasa air mataku berlinang menetas membasahi
pipiku, seketika itu juga Bak datang dengan melaju membawah mobilnya ke garasi,
karena Bak sudah tauh duluan dari keluarga yang ada di Pontianak, teryata Bak
sudah memesan tiket pesawat ku untuk pulang ke Pontianak dengan mendadak,
akupun di suruh siap siap untuk pulang.
Perasaan cinta ku yang diam diam
belum sempat ku ucapkan, hatiku telah rapuh dengan berita duka, aku pun
berangkat tanpa pamit dengan keluarga apalagi dengan bang Raihan, cinta dalam
diam ku berakhir di dua negara tanpa satu ucapan perpisahan dan aku harus
menerima takdirku dengan ikhlas.
Cinta dalam diam memang tidak
seharusnya memiliki, tapi sebagai kenangan yang terindah
Keren bu lanjutkan
BalasHapus