Tatapan perjalanan
TATAPAN
PERJALANAN
April 2004, matahari
mulai menyengat, dengan Bismillah dan doa kumulai melangkah kan kaki ku keluar
dari negeriku untuk meninggalkan pengalaman pahit dan mencari jejak jejak
pengalaman yang lebih baik, kakiku mulai melangkah jauh meninggalkan kampung
halaman. Bunyi hiruk pikuk mesin pesawat terbang mulai terdengar langkahku
semakin melaju menuju tempat chek in bandara dengan rasa hati yang sedih
meninggalkan keluarga yang kusayangi di kampung halaman ku tercinta.
Telah terdengar suara
panggilan untuk memasuki pesawat, akupun ikut berbaris dan kakiku melangkah
bersama orang orang yang satu pesawat, satu tujuan karena aku baru pertama kali
naik pesawat dengan perasaan takut ku lanjutkan langkahku. Tatapan mataku
mencari cari nomor kursiku yang sudah tertera di dalam tiket, “nah ini dia”,
kataku, akupun memasukkan tas di begasi kabin diatas tempat duduk ku.
Tarikkan napas ku mulai
terasa panjang sambil menduduki kursi dengan bismillah ,tatapan mataku mulai
melihat ke jendela samping tempat duduk, ku lihat butiran embun yang telah
memutih menjadi segumpal awan yang indah, “ subhannallah”, gumanku dalam hati
betapa indahnya ciptaan Mu, gulungan ombak di lautan lepas semakin terlihat
jelas, hamparan hutanku yang hijau semakin jauh kutinggalkan, kotaku nan permai
sudah tak terlihat lagi bayanganya.
Kulihat kiri Kanan sunyi
hening tiada satupun yang berkata kata hatiku terasa dingin
seperti ingin membeku, tanpa kusadari tatapan mataku melihat sosok tubuh yang
sudah tua dengan rambut memutih, kulihat dijemari tangannya memegang tasbih dan
bibirnya mengucapkan kata kata dzikir tanpa mengeluarkan suara,tiba tiba kudengar
suara pramugari yang mengatakan kepada
para penumpang, bahwa kita akan memasuki wilayah negara singapura, ku lihat
kembali ke jendela tatapan mataku mulai melihat gedung gedung pencakar langit
yang nampak dari ketingian pesawat
terbangku. Akupun menghela nafas sekali lagi sambil mengucapkan
“Alhamdullilah”.
Dan ku dengar suara
pramugari dengan lantang dan nyaring kembali memerintahkan kami untuk mengecek
selt belt kami karena pesawat akan mulai mendarat, suara mesin pesawat pun
mulai terdengar nyaring dengan menghela nafas panjang yang diiringi dengan
bismillah aku bersiap siap berdiri dari kursi sambil mengambil tas yang ku masukkan
dalam begasi kabin diatas tempat duduk.
Satu persatu mulai turun
menapaki tangga pesawat dan kami pun disapa oleh pramugari dengan senyuman yang
manis sebagai ungkapan bahagia sampai tujuan dengan selamat.
Akupun melangkah dengan
penuh rasa bahagia, kulangkah kan kaki ku dengan dzikirNya untuk mengharapkan
perlindungan dan RidhoNya sambil melihat kiri kanan di Kawasan landasan bandara
yang banyak pesawat pesawat negara negara besar, karena Changi Airport
merupakan bandara Internasional yang sibuk dengan keluar masuknya pesawat
pesawat asing.
Kaki ku mulai melangkah
jauh meninggalkan kawasan landasan bandara menuju ke tempat bagasi kabin untuk
mengambil koperku yang kuberi tanda pita hijau
sambil menujukkan nomor bukti penitipan bagasi
ke petugas.
Tarikkan
koperku melaju mengikuti Langkah kaki ku menuju Terminal 2 bandara Changi
Airport dengan rasa yakin untuk menghilangkan rasa takutku dinegeri orang,
pandangan mataku mulai mencari cari sosok seseorang dan jariku mulai memicit
nomor di handphone, ku menunggu seseorang yang akan menjemput, dan ternyata aku
sudah di tunggu oleh keluargaku yang berada di sini walaupun kami belum pernah
bertemu sebelumnya, hanya melalui telphon. Yang aku tauh sosok tubuh yang
menjemputku bernama bang Shafiq dia adalah suaminya kak Syima keluargaku, kata
ibu sebelum aku meninggalkan negeriku.
“Hai
humairah, how are you!” sapa bang Shafiq padaku“I am fine, thanks bang Shafiq”,
sapaku dengan logat melayu inggris, bang Shafiq
pun memasukkan koper kedalam bagasi mobil akupun masuk kedalam mobil. “bagaimana
perjalanan dalam pesawat terbang humairah”, sapa bang Shafiq padaku,
“Alhamdullilah tenang bang”, jawabku.
Mesin
mobil mulai berbunyi, lajunya mobil bang Shafiq meninggalkan bandara Changi
Airport. Tatapan perjalanan mataku mulai kembali bereaksi melihat kiri kanan
kota singapura yang padat dengan gedung gedung pencakar langitnya, jalan jalan
yang lebar, taman taman yang di tata
dengan indah di sepanjang perjalanan, sesekali tatapan mataku melihat
plang plang nama nama jalan yang kulalui, kawasan kota dan nama nama gedung
yang kami lewati, ade beberapa kawasan kota yang ku ingat saat dalam perjalanan
yaitu Pasir Ris, Bedok, Tampines, Ubi, Eunos, dan masih banyak lagi yang kulupakan
Aku
berguman di dalam hatiku “ sekarang aku berada di Negeri orang , semoga Allah
selalu melindungiku”, perjalanan mobilku
semakin jauh dari bandara dan semakin dekat dengan rumah yang ku tujuh, suasana
di dalam mobil hening tidak adanya sapaan kembali setelah sapaan bang Shafiq di
bandara, karena aku merasa changung dan malu untuk mengeluarkan kata kata
terlebih dahulu dan tatapan bang Shafiq pun fokus kedepan menyetir mobil dengan
tenang, aku tidak ingin menggangunya.
Alhamdullillah
hatiku merasa bahagia dan tenang selama dalam perjalanan, tatapan mataku
melihat keindahan, kebersihan, kerapian tata kotanya, hijaunya pohon pohon di
sepanjang jalan dan tingginya gedung gedung pencakar langit” inilah negeri
singapura “, gumanku dalam hati kembali, perjalanan pertamaku keluar negeri
demi mencari pengalaman dan bertemu keluarga yang belum pernah ku temu selama
ini.
Aku
merasakan tatapan perjalanan mataku yang pertama di negeri Singapura terasa
sangat menyenangkan, hatiku merasa bahagia walaupun dinegeri orang yang belum
ku kenal, semoga Allah selalu melindungi dan meridhoi setiap langkahku.
Komentar
Posting Komentar