Setitik Berkah Pengabdianku

 

 

SETITIK BERKAH PENGABDIANKU

 

Tiga belas tahun sudah mengabdi di Sekolah Dasar, penuh cerita dan nilai perjuangan, terutama saat  di awal awal menit sebagai guru honorer. Nama saya Herlinda seorang guru honorer SD Negeri 3 kota singkawang, tempatku mengabdi tidak jauh dari rumah, dalam perjalanan kaki hanya membutuhkan waktu hanya 10 menit dari rumah ke sekolah

 

Perjalanan saya menjadi guru honorer, banyak diwarnai dengan cerita cerita perjuangan dan mengharukan , Diawali sebagai guru honorere bahasa inggris dengan jumlah waktu 30 jam, secara tidak langsung tidak linear dengan latar pendidikan saya D2 Tarbiyah PAI. Dengan gaji yang berdasarkan uang Bos ( Biaya operasional sekolah) yang di perhitungkan dan dinilai melalui jam tatap muka yang jauh berbanding guru PNS. Setelah beberapa tahun kemudian saya mengambil penyetaraan S1 yang sesuai dengan latar belakang kelinearran saya dengan bantuan biaya siswa dari  dinas setempat, sehingga sesuai dengan mapel pelajaran yang saya ampuh. Yang sampai saat ini masih berstatus guru honorer, beberapa kali saya menggikuti test cpns dari berbagai kabupaten yang membuka formasi jurusan saya, dan Alhamdullilah masih tidak lulus, sampai lah  adanya pppk (P3K) program pemerintah, untuk tempat saya saat ini tidak adanya pembukaan P3K untuk mata pelajaran yang saya ampuh sehingga saya tidak ada kesempatan untuk  mengikuti test P3K tahun ini.

 

Sejati dari awalnya  menjadi guru bukan keinginan yang di cita citakan sejak kecil, saat berseragam putih biru saya berkeinginan menjadi seorang analis kesehatan melihat dari latar keluarga yang banyak berada di posisi analisis kesehatan, Namun atas dasar aturan aturan penerimaan siswa analis, saya dinyatakan tidak lulus karena tinggi badan tidak mencapai 150 m, sehingga saya berubah arah ke ekonomi memasuki SMEA. Diakhir sekolah  menengah keatas saya menjadi binggung kemana tujuan selanjutnya, hingga muncul rasa ingin membuat orang tua lebih bangga sehingga saya mamasuki STAIN Pontianak ( sekolah tinggi agama islam negeri pontianak) mengambil program Diploma Jurusan Tarbiyah. Adanya setitik harapan kebahagian dari orang tua yang terlihat dari pancar mata ibu saya, mendengar saya lulus masuk STAIN Pontianak

.

Perjuangan saya di mulai, awal perjalanan sebagai guru honorer saya berada di SD Negeri 3 kota pontianak, seiring dengan perjalanan sebagai guru yang di wajibkan mengajar sesuai dengan aturan aturan yang berlaku. Takdir Allah tidak ada yang tahu jodoh rezeki maut sudah ada yang mengatur. Status sebagai seorang istri harus mengikuti suami di mana ia tinggal, maka saya mengikuti suami untuk hijrah ke kota singkawang. Alhamdulillah rezeki sudah diatur Allah, saya tidak mengira bahwa lokasi tempat saya hohor tidak jauh dari rumah suami saya, bisa di tempuh dengan jalan kaki, saya merasa bahagia dan tetap maju untuk menunasikan amanah ilmu yang saya dapatkan di bangku kuliah dengan sebaik baiknya. Dihari pertama mengajar saya merasakan nuansa yang begitu hebat, orang orang yang baru yang masih sangat asing, serta kondisi lingkungan yang tampak baru bagi diri saya.

 

Saya meyakini tugas menjadi pendidik ini adalah  yang sangat berat dan penuh tantangan dan tanggung jawab dalam mendidik dan membentuk karakter siswa yang berakhlak mulia. Karenanya tidak akan sukses kalau sikap yang saya miliki seperti air mengalir. Maka sejak awal saya menanamkan sikap penuh semangat, antusias dalam memberikan pelajaran yang menyenangkan.

 

Seperti yang  di ceritakan seorang keluarga tentang lingkungan sekolah tempat saya mengajar, bahwa di awal awal akan terasa berat dan ternyata benar saya merasakan hal demikian, mulai dari proses adaptasi dengan lingkungan tempat saya mengajar dan tinggal , penyesuaian bahasa, adat, serta kebiasaan sehari hari yang cukup berbeda signifikan dengan diri saya. Hal terberat berikutnya yang saya hadapi saat masuk ke kelas saya harus berjuang memahami karakter dan bahasa setiap murid dan merancang strategi pengajaran yang efektif.

Saat bulan pertama mengajar sebagai pendidik di SD Negeri 3 kota singkawang ujian berat pun menghampiri saya, saat berusaha mendidik, membentuk karakter para murid yang sebelumnya tingkah dan sikapnya sulit untuk di tegur (keterlaluan) saya di hadapi situasi yang serba salah, tidak seharusnya seorang pendidik memiliki emosi yang tinggi terhadap anak didiknya, tapi guru juga manusia. Rasa bersalah itu selalu menghatui saya sebagai pendidik saya merasa gagal dalam mendidik pembentukkan murid yang beriman dan bertakwa.

 

Meski di warnai dengan pejuangan yang tidak mudah, namun Allah juga menyisipkan kisah kisah indah di  masa pengabdian ini. Di tahun ke dua saya berhasil mendampingi murid berlatih rutin dalam lomba dialog bahasa inggris, hampir setiap hari jam istirahat, dengan harapan akan membuahkan hasil yang membahagiakan bagi semua pihak sekolah maupun pihak keluarga peserta didik. Saya meyakini suatu  saat ini akan mendapat hasil yang memuaskan bagi semua pihak. Tibalah saat pengumuman hasil lomba, sekolah kami berhasil mendapat juara 2 lomba pidato dalam bahasa inggris, Alhamdullilah sujud syukur saya panjatkan kepada Allah Swt , terima kasih atas izinnya.

 

Tiba waktumya saya selalu teringat kepada orang orang hebat bagi saya yang telah berjasa membantu saya menjadi seorang pendidik dengan wasillah wasillah yang dapat memotivasi diri saya, teruntuk ibu saya, paman dan bibi saya yang selalu memberi semangat dan motivasi sehingga saat ini dengan keberkahan dan doanya, saya masih sebagai pendidik walaupun masih honorer.

 

Komunikasi  efektif dalam pembelajaran  merupakan proses transformasi pesan yang baik. Dengan menguasai dan mengembangkan beberapa strategi serta teknik berkomunikasi secara otomatis akan meningkatkan kemampuan untuk berhubungan dengan berbagai macam orang terutamab yang di didik. Seorang pendidik bisa menciptakan  dan mengembangkan komunikasi yang efektif melalui materi pembelajaran yang bisa di terima  dan di pahami oleh pserta didik.

Komentar